.

Tampilkan postingan dengan label SOSIAL DESA GETASAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SOSIAL DESA GETASAN. Tampilkan semua postingan

PORDES, Bertanding Bukan Untuk Menang


Pekan Olahraga Desa yang dikenal dengan sebutan PORDES di desa Getasan dimeriahkan oleh seluruh masyarakat desa. Kegiatan ini dilaksanakan 3 hari berturut-turut, tepat tanggal 19, 20, 21 Juli 2013 pukul 14.00- selesai. Pada hari pertama PORDES diawali dengan lomba makan kerupuk.
Selanjutnya, kegiatan PORDES dilanjutkan dengan lomba lari kelerang dan balap karung. Semua perlombaan boleh diikuti oleh semua anak-anak baik laki-laki mapun perempuan dan terlihat semua anak-anak terlihat antuasias mengikuti kegiatan.


Pada hari kedua, tepat pukul 14.00 seluruh masyarakat telah berkumpul di lapangan, tempat terlaksananya kegiatan. Kegiatan yang dilakukan adalah lomba tarik tambang dan footsal perempuan. Lucunya, kegiatan yang juga dimeriahkan juga oleh mahasiswa KKN Undiksha ini, lawan dari mahasiswa adalah bapak-bapak dan ibu-ibu yang mempunyai badan yang cukup besar dan kuat. Sehingga jelas, tambang yang ditarik mahasiswa KKN Undiksha dalam sekejap sudah berada di genggaman ibu-ibu dan bapak-bapak.


Bukan itu saja, pada lomba footsal perempuan, setiap pemain harus menggunakan sarung kebaya, sehingga jelas para pemain semakin sulit untuk menendang bola. Tapi, semua pemain, baik warga maupun mahasiswa KKN terlihat sangat antusias dalam mengikuti perlombaan footsal ini walaupun di tengah perlombaan terjadi hujan yang cukup lebat.
           Di hari terakhir PORDES, tepat pada pukul 07.00, seluruh warga telah berbondong-bondong menuju lapangan untuk mengikuti jalan santai. Hari ini, adalah hari yang paling ditunggu-tunggu para warga karena lebih dari 300 hadiah yang akan diberikan oleh panitia melalui kupon-kupon yang dibagikan oleh panitia. Sebelum jalan santai berlangsung, kepala Desa Getasan memberikan sambutan sekaligus membuka acara kegiatan jalan santai.
          Setelah semua warga sampai di garis finish, kegiatan seanjutnya adalah lomba panjat pinang dan diakhiri pembagian hadiah dari pemanggilan kupon acak.
                                                                        

MASIH MEMAINKAN PERMAINAN TRADISIONAL

Jaman sekarang ini sudah sangat jarang sekali kita temukan anak – anak yang bermain di lapangan bersama teman – temannya. Sekalipun itu ada, paling mereka bermain sepak bola saja. Anak – anak sekarang sudah “terkontaminasi” dengan berbagai alat elektronik yang sebenarnya bertujuan untuk membantu aktivitas kita, namun yang terjadi malah sebaliknya anak – anak menjadi ketergantungan terhadap berbagai peralatan elektronik. Sering kita jumpai pemandangan seperti ini :


Atau pemandangan seperti ini:

Pemandangan seperti itu tentu membuat kita prihatin. Anak menjadi jarang bergerak dan kreativitas anak menjadi tidak terlatih dan tersalurkan. Keterampilan bersosialisasi dan berkomunikasi yang harusnya dilatih dari masa anak – anak melalui permainan menjadi tidak terbentuk. Anak cenderung menjadi anti sosial dan penyendiri. Padahal seperti yang kita ketahui, Indonesia secara umum dan Bali secara khusus memiliki banyak sekali permainan tradisional yang sudah terbukti secara turun menurun mampu melatih kreativitas anak dan kemampuan dalam bersosialisasi. Lain halnya dengan anak-anak yang ada di desa Getasan, di sini masih dapat kita jumpai pemandangan anak-anak berkumpul untuk bermain bersama-sama dan biasanya permainan yang mereka mainkan masih bersifat tradisional. Ini bukan karena tidak ada pusat bermain seperti di tempat lainnya, melainkan karena dari kecil mereka dididik oleh orang tuanya tidak bergantung dengan alat-alat elektronik melainkan menggunakan kreativitas mereka dalam bermain. Salah satu permainan tradisional yang sering mereka mainkan adalah layang-layang.

Pemandangan seperti itu tentu membuat kita prihatin. Anak menjadi jarang bergerak dan kreativitas anak menjadi tidak terlatih dan tersalurkan. Keterampilan bersosialisasi dan berkomunikasi yang harusnya dilatih dari masa anak – anak melalui permainan menjadi tidak terbentuk. Anak cenderung menjadi anti sosial dan penyendiri. Padahal seperti yang kita ketahui, Indonesia secara umum dan Bali secara khusus memiliki banyak sekali permainan tradisional yang sudah terbukti secara turun menurun mampu melatih kreativitas anak dan kemampuan dalam bersosialisasi. Lain halnya dengan anak-anak yang ada di desa Getasan, di sini masih dapat kita jumpai pemandangan anak-anak berkumpul untuk bermain bersama-sama dan biasanya permainan yang mereka mainkan masih bersifat tradisional. Ini bukan karena tidak ada pusat bermain seperti di tempat lainnya, melainkan karena dari kecil mereka dididik oleh orang tuanya tidak bergantung dengan alat-alat elektronik melainkan menggunakan kreativitas mereka dalam bermain. Salah satu permainan tradisional yang sering mereka mainkan adalah layang-layang.




Istilah “Melayangan” akan sering kita dengar ketika anak-anak berkumpul sepulang sekolah untuk merencanakan permainan yang akan mereka mainkan nanti sorenya. Mereka berlomba-lomba membuat layang-layang dengan berbagai bentuk dan ukuran yang akan mereka perlombakan dengan teman-temannya.

Ritual “mekorot” menjadi salah satu kegiatan wajib yang mereka kerjakan saat bermain layang-layang, berlomba untuk membuat layang-layang temannya putus kemudian mengejarnya untuk memperebutkannya. Gelak tawa anak-anak menjadi sarana latihan dalam bersosialisasi dengan teman sepermainannya dan kreativitas dan keterampilan anak dilatih dalam membuat layang-layang yang mereka inginkan.

Getasan, Meselodor, Permainan TradisionalSelain “Melayangan”, anak-anak juga sering memainkan permainan tradisional lainnya seperti “Meselodor” yang membutuhkan kerja sama tim. Dengan permainan ini anak-anak dilatih untuk menumbuhkan kerja sama dan kekompakan dalam tim. Permainan ini dimainkan oleh 6 orang dibagi menjadi 2 kelompok, satu sebagai tim penjaga dan lainnya sebagai tim yang menerobos benteng dari tim penjaga. Benteng disimbolkan dengan 3 buah garis yang berjenjang di mana aturan mainnya sutiap garis dijaga oleh 1 orang dari tim penjaga, tim penerobos harus melewati setiap arus tersebut tanpa menginjak garis tersebut dan disentuh oleh penjaga garis. Bila salah satu anggota tim penerobos tertangkap maka kedua tim akan berganti peran. Masih banyak lagi permainan tradisional yang dapat kita jumpai di Desa Getasan ini, tentu saja ini akan menjadi daya tarik tersendiri serta hiburan bagi wisatawan yang berkunjung ke desa ini. Oleh karena itu bagi anda yang berminat untuk berlibur ke Bali, jangan lupa untuk memasukkan desa Getasan ke daftar tempat yang akan anda kunjungi.

BUDAYA BERGOTONG-ROYONG DI DUSUN BUANGGA - GETASAN


         Bali, hal pertama yang muncul di pikiran kita mungkin pantainya yang indah atau tariannya yang terkenal sampai ke mancanegara. Banyak wisatawan yang berbondong – bondong setiap tahunnya datang untuk berlibur ke pulau dewata ini. Sebagian besar merupakan wisatawan mancanegara dan tidak sedikit juga merupakan wisatawan lokal. Bila ditanyakan ternyata hanya sebagian kecil dari mereka yang menjawab “ingin melihat pantai yang indah” atau “saya penasaran ingin melihat tarian khas Bali”. Ternyata yang menjadi tujuan utama sebagian besar wisatawan yang datang ke Bali adalah kebudayaan dari masyarakat Bali. Keagamaan dan prosesi ibadahnya yang unik dengan sebagian besar masyarakatnya memeluk agama Hindu. Selain itu juga budaya kekeluargaan yang sangat kental atar masyarakat Bali baik itu gotong-royong maupun keramahannya menjadi daya tarik utama bagi wisatawan untuk mengunjungi pulau surga ini.
         

         Begitu juga di Desa Getasan, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung – Bali, sikap gotong-royong yang begitu kental sangat terasa di lingkungan masyarakat desa ini. Warganya yang ramah dan sangat "wellcome" terhadap kedatangan wisatawan ataupun tamu membuat suasana kekeluargaan begitu terasa. Selain dalam kegiatan keagamaan di desa ini juga menjaga budaya gotong-royong dalam kegiatan sosialnya, salah satu contohnya adalah kegiatan gotong-royong yang dilaksanakan di salah satu dusun di desa Getasan ini yaitu dusun Buangga pada tanggal 26 Juli 2013. Dalam rangka untuk membersihkan lingkungan dusun, semua warga berbondong – bondong membawa berbagai alat kebersihan untuk mengikuti kegiatan gotong-royong ini. “Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing” begitu terasa. Pekerjaan yang dibarengi dengan gelak tawa dan obrolan membawa daya tarik sendiri bagi orang – orang yang kebetulan melintas saat kegiatan ini dilaksanakan. Tentu saja suasana seperti ini yang ingin dilihat oleh wisatawan. Anda yang ingin berkunjung ke Bali jangan lupa untuk memasukkan desa Getasan dalam daftar kunjungan anda.